Sabtu, 04 Juni 2011

MAKALAH PEMBENIHAN IKAN KAKAP MERAH

OLEH 
ALUDIN AL AYUBI 
NIM : 0804052698


BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG
Ikan Kakap ( Lates calcalifer ) adalah jenis ikan laut yang memiliki nilai ekonomis tinggidan banyak digemari, baik untuk dikonsumsi masyarakat atau untuk komoditas ekspor.Produksi ikan kakap di Indonesia terutama dihasilkan dari tangkapan nelayan di laut. Ikan Kakap dapat dipelihara dengan baik dalam perairan payau maupun dalam jarring apung di laut. Dengan SR yang lebih besar dari ikan kerapu yakni sekitar 35 %. Ikan ini menjadi komoditas yang sangat menarik untuk usaha budidaya, baik dalam skala kecil ataupun skala besar, karena mempunyai harga yang cukup baik.
Usaha pembenihan dan budidaya ikan kakap putih merupakan salah satu upaya untuk memanfaatkan kawasan pantai dalam hamparan yang terbatas dan mengurangi tekanan terhadap sumber daya alam dari kegiatan penangkapan. Namun keberhasilan pengembangannya sangat ditentukan oleh penguasaan teknologi, nilai ekonomis, system pengelolaan yang diterapkan dan keterpaduan pemanfaatan kawasan pantai. Dengan dikembangkannya teknologi ini diharapkan misi mewujudkan masyarakat nelayan yang maju, mandiri, sejahtera dan berkeadilan akan tercapai. Selain itu, kesempatan kerja dan berusaha bagi masyarakat pantai semakin terbuka, serta meningkatnya petani nelayan dan produksi perikanan (Mayunar dan Genisa, 2002).

B.   TUJUAN
`Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi para mahasiswa tentang pembenihan ikan kakap ( Lates calcalifer )



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.      DESKRIPSI
Ikan kakap adalah ikan yang mempunyai toleransi yang cukup besar terhadap kadar garam (Euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan di air tawar dan kawin di air laut). Sifat-sifat inilah yang menyebabkan ikan kakap dapat dibudidayakan di laut, tambak maupun air tawar.

B.      KLASIFIKASI
·        Ikan kakap putih
Ikan kakap putih termasuk dalam famili Centroponidae, secara lengkap taksonominya adalah sbb:
Phillum          : Chordata
Sub phillum   : Vertebrata
Klas               : Pisces
Subclas          : Teleostei
Ordo              : Percomorphi
Famili             : Centroponidae
Genus            : Lates
Species           : Lates calcarifer

·        Ikan Kakap Merah
Ikan kakap merah keluarga Lutjanidae mempunyai klasifikasi sebagai berikut (Saanin, 1984) :
Filum             &nrsp; : Chordata
Sub filum        : Vertebrata
Kelas               : Pisces
Sub kelas         : Teleostei
Ordo                : Percomorphi
Sub ordo         : Perciodea
Famili              : Lutjanidae
Sub famili        : Lutjanidae
Genus              : Lutjanus
Spesies            : Lutjanus sp.

C.      CIRI-CIRI MORFOLOGIS
·     Ikan Kakap Putih
a.       Badan memanjang, gepeng dan batang sirip ekor lebar.
b.      Pada waktu masih burayak (umur 1 ~ 3 bulan) warnanya gelap dan setelah menjadi gelondongan (umur 3 ~ 5 bulan) warnanya terang dengan bagian punggung berwarna coklat kebiru-biruan yang selanjutnya berubah menjadi keabu-abuan dengan sirip berwarna abu-abu gelap.
c.       Mata berwarna merah cemerlang.
d.      Mulut lebar, sedikit serong dengan geligi halus.
e.       Bagian atas penutup insang terdapat lubang kuping bergerigi.
f.       Sirip punggung berjari-jari keras 3 dan lemah 7 ~ 8. Sedangkan bentuk sirip ekor bulat.
·     Ikan Kakap Merah
Ciri-ciri kakap merah (Lutjanus sp.) mempunyai tubuh yang memanjang dan melebar, gepeng atau lonjong, kepala cembung atau sedikit cekung. Jenis ikan ini umumnya bermulut lebar dan agak menjorok ke muka, gigi konikel pada taring-taringnya tersusun dalam satu atau dua baris dengan serangkaian gigi caninnya yang berada pada bagian depan. Ikan ini mengalami pembesaran dengan bentuk segitiga maupun bentuk V dengan atau tanpa penambahan pada bagian ujung maupun penajaman. Bagian bawah pra penutup insang bergerigi dengan ujung berbentuk tonjolan yang tajam. Sirip punggung dan sirip duburnya terdiri dari jari-jari keras dan jari-jari lunak.
Sirip punggung umumnya berkesinambungan dan berlekuk pada bagian antara yang berduri keras dan bagian yang berduri lunak. Batas belakang ekornya agak cekung dengan kedua ujung sedikit tumpul. Warna sangat bervariasi, mulai dari yang kemerahan, kekuningan, kelabu hingga kecoklatan. Ada yang mempunyai garis-garis berwarna gelap dan terkadang dijumpai adanya bercak kehitaman pada sisi tubuh sebelah atas tepat di bawah awal sirip punggung berjari lunak. Pada umumnya berukuran panjang antara 25 – 50 cm, walaupun tidak jarang mencapai 90 cm (Gunarso, 1995). Ikan kakap merah menerima berbagai informasi mengenai keadaan sekelilingnya melalui beberapa inderanya, seperti melalui indera pengelihatan, pendengaran, penciuman, peraba, linea lateralis dan sebagainya.
D.      MAKANAN DAN KEBIASAAN MAKAN
Menurut Effendi (1997), makanan merupakan faktor pengendali yang penting dalam menghasilkan sejumlah ikan disuatu perairan, karena merupakan faktor yang menentukan bagi populasi, pertumbuhan dan kondisi ikan di suatu perairan. Di alam terdapat berbagai jenis makanan yang tersedia bagi ikan dan ikan telah menyesuaikan diri dengan tipe makanan khusus dan telah dikelompokkan secara luas sesuai dengan cara makannya, walaupun dengan macam-macam ukuran dan umur ikan itu sendiri (Nikolsky, 1963)

Menurut Moyle dan Chech (1988), ikan dapat dikelompokkan berdasarkan jumlah dan variasi makanannya menjadi euryphagous yaitu ikan yang memakan berbagai jenis makanan; stenophagous yaitu ikan yang memakan makanan yang sedikit jenisnya; dan monophagous yaitu ikan yang hanya memakan satu jenis makanan saja. Menurut Effendi (1997), kebiasaan makanan adalah jenis, kuantitas dan kualitas makanan yang dimakan oleh ikan, sedangkan kebiasaan cara makan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan waktu, tempat dan bagaimana cara ikan memperoleh makanannya. Effendi (1997) menambahkan bahwa faktorfaktor yang menentukan suatu jenis ikan akan memakan suatu jenis oeganisme adalah ukuran makanan, ketersediaan makanan, warna, rasa, tekstur makanan dan selera ikan terhadap makanan.
Selanjutnya dikatakan bahwa faktor yang mempengaruhi jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi oleh suatu spesies ikan adalah umur, tempat dan waktu. Jenis ikan kakap umumnya termasuk ikan buas, karena pada umumnya merupakan predator yang senantiasa aktif mencari makan pada malam hari (nokturnal). Aktivitas ikan nokturnal tidak seaktif ikan diurnal (siang hari). Gerakkannya lambat, cenderung diam dan arah geraknya tidak dilengkapi area yang luas dibandingkan ikan diurnal. Diduga ikan nokturnal lebih banyak menggunakan indera perasa dan penciuman dibandingkan indera penglihatannya. Bola mata yang besar menunjukkan ikan nokturnal menggunakan indera penglihatannya untuk ambang batas intensitas cahaya tertentu, tetapi tidak untuk intesitas cahaya yang kuat (Iskandar dan Mawardi, 1997).
Ikan kakap lebih suka memangsa jenis-jenis ikan. Adapun mangsa lain berupa jenis kepiting, udang, jenis crustacea, gastropoda serta berbagai jenis plankton utamanya urochordata. Umumnya kakap merah yang berukuran besar, baik panjang maupun tinggi tubuhnya, memangsa jenis-jenis ikan maupun invertebrata berukuran besar yang ada di dekat permukaan di perairan karang. Jenis kakap merah ini biasanya menghuni perairan pantai berkarang hingga kedalaman 100 meter, hidup soliter dan tidak termasuk jenis ikan yang berkelompok. Mereka umumnya dilengkapi dengan gigi kanin yang merupakan adaptasi sehubungan dengan tingkah laku makannya, agar mangsa tidak mudah lepas.
E.   SIFAT HIDUP DAN PEMIJAHAN
Ikan kakap tergolong diecious yaitu ikan ini terpisah antara jantan dan betinanya. Hampir tidak dijumpai seksual dimorfisme atau beda nyata antara jenis jantan dan betina baik dalam hal struktur tubuh maupun dalam hal warna. Pola reproduksinya gonokorisme, yaitu setelah terjadi diferensiasi jenis kelamin, maka jenis seksnya akan berlangsung selama hidupnya, jantan sebagai jantan dan betina sebagai betina. Jenis ikan ini rata-rata mencapai tingkat pendewasaan pertama saat panjang tubuhnya telah mencapai 41–51% dari panjang tubuh total atau panjang tubuh maksimum. Jantan mengalami matang kelamin pada ukuran yang lebih kecil dari betinanya.
Kelompok ikan yang siap memijah, biasanya terdiri dari sepuluh ekor atau lebih, akan muncul ke permukaan pada waktu senja atau malam hari di bulan Agustus dengan suhu air berkisar antara 22,2–25,2ºC. Ikan kakap jantan yang mengambil inisiatif berlangsungnya pemijahan yang diawali dengan menyentuh dan menggesek-gesekkan tubuh mereka pada salah seekor betinanya. Setelah itu baru ikan-ikan lain ikut bergabung, mereka berputarputar membentuk spiral sambil melepas gamet sedikit di bawah permukaan air. Secara umum ikan kakap merah yang berukuran besar akan bertambah pula umur maksimumnya dibandingkan yang berukuran kecil. Ikan kakap yang berukuran besar akan mampu mencapai umur maksimum berkisar antara 15–20 tahun, umumnya menghuni perairan mulai dangkal hingga kedalaman 60–100 meter (Gunarso, 1995).
F.     HABITAT
Ikan kakap umumnya menghuni daerah perairan karang ke daerah pasang surut di muara, bahkan beberapa spesies cenderung menembus sampai ke perairan tawar. Jenis kakap berukuran besar umumnya membentuk gerombolan yang tidak begitu besar dan beruaya ke dasar perairan menempati bagian yang lebih dalam daripada jenis yang berukuran kecil. Selain itu biasanya kakap merah tertangkap pada kedalaman dasar antara 40–50 meter dengan substrat sedikit karang dan salinitas 30–33 ppt serta suhu antara 5- 32ºC (Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, 1991). Jenis yang berukuran kecil seringkali dijumpai beragregasi di dekat permukaan perairan karang pada waktu siang hari. Pada malam hari umumnya menyebar guna mencari  makanannya baik berupa jenis ikan maupun crustacea. Ikan-ikan berukuran kecil untuk beberapa jenis ikan kakap biasanya menempati daerah bakau yang dangkalatau daerah-daerah yang ditumbuhi rumput laut. Potensi ikan kakap merah jarang ditemukan dalam gerombolan besar dan cenderung hidup soliter dengan lingkungan yang beragam mulai dari perairan dangkal, muara sungai, hutan bakau, daerah pantai sampai daerah berkarang atau batu karang.

BAB III
PEMBAHASAN

A.      PERSYARATAN LOKASI
Keberhasilan dalam operasional pembenihan kakap putih sangat tergantung pada lokasi yang tepat, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemilihan lokasi adalah sebagai berikut :
1.     Sumber Air Laut
Sumber air laut yang dipergunakan untuk pembenihan harus bersih dan jernih sepanjang tahun, dengan perubahan salinitas relatif kecil. Lokasi yang sesuai biasanya di teluk yang terlindung dari gelombang/arus kuat dan terletak di lingkungan pantai yang berkarang dan berpasir. Lokasi juga harus jauh dari buangan sampah pertanian dan industri. Persyaratan teknis kimia dan fisika yang memenuhi syarat adalah sebagai berikut :
·         Salinitas : 28 – 35
·         pH : 7,8 - 8,3
·         Alkalinitas : 33 - 60 ppm
·          Bahan organik : < 10 ppm
·         Amoniak : < 2 ppm
·         Nitrit : < 1 ppm
·         Suhu : 30 - 330C
·         Kejernihan : maksimum
2.     Sumber Air Tawar
Air tawar dibutuhkan untuk menurunkan salinitas air laut yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan. Selain itu air tawar juga digunakan untuk mencuci bak dan peralatan pembenihan lainnya agar tidak mudah berkarat.
3.     Sumber Listrik
Pembenihan tidak dapat dioprasikan tanpa listrik. Listrik sangat penting sebagai sumber tenaga untuk menjalankan peralatan pembenihan seperti blower, pompa air dan sistim penunjang lainnya. Pemasangan generator mutlak diperlukan terutama untuk daerah yang sering tejadi pemadaman aliran listrik.
4.     Topography
Lokasi pembenihan harus terletak pada daerah bebas banjir, ombak dan pasang laut. Lokasi tersebut juga harus terdiri dari tanah yang padat/kompak. Walaupun pembenihan skala rumah tangga secara keseluruhan berskala kecil, namun bak pemeliharaan larva tetap bertonase besar sehingga tanah dasar haruslah dipilih yang cukup stabil, misalnya menghindari bekas timbunan sampah agar kekuatan bak terjamin.
B.      FASILITAS DAN PERALATAN LAPANGAN 
1.     Fasilitas
Fasilitas yang diperlukan dalam unit pembenihan kakap skala kecil cukup sederhana yaitu pompa, bak penampungan air tawar dan air laut, bak pakan alami, bak pemeliharaan larva dan bak penetasan artemia, aerator/blower dan perlengkapannya serta peralatan lapangan sebagai penunjangnya.
a.      Pompa
Pompa diperlukan untuk mendapatkan air laut maupun air tawar. Apabila air laut relatif bersih dapat langsung dipompakan ke bak penyaringan dan disimpan dalam bak penampungan air. Jika sumber air laut relatif keruh dan banyak mengandung partikel lumpur, maka air laut di sedimentasikan dalam bak pengendapan, selanjutnya bagian permukaan air yang relatif jernih di pompa ke bak penyairngan, spesifikasi pomapa hendaknya dipilih dengan baik karena ukuran pompa tergantung pada jumlah air yang diperlukan persatuan waktu, disarankan untuk HSRT dengan kapasitas 3 bak pemeliharaan larva masing-masing dengan kapasitas 10 m3 air, ukuran pompa 1,5 inci.
b.      Bak Penampungan Air Tawar dan Air Laut
Bak penampungan air dibangun pada ketinggian sedemikian rupa sehingga air dapat didistribusikan secara gravitasi ke dalam bak-bak dan sarana lainnya yang memerlukan air (laut, tawar bersih). Bak terbuat dari semen dan sebaiknya volume bak minimal sama dengan volume bak pemeliharaan larva. Bila tidak ada bak penampungan khusus dapat mengunakan bak pemeliharaan larva yang difungsikan sebagai bak penampungan air, kemudian dialirkan dengan menggunakan pompa submarsibel.
c.       Bak Pemeliharaan larva
Bak pemeliharaan larva dapat terbuat dari semen, fiber glass atau konsstruksi kayu yang dilapisi plastik, masing-masing bahan mempunyai kelebihan dan kekurangan. Ukuran bak dapat dibuat sesuai dengan kemampuan dan target produksi yang ingin dicapai, tetapi disarankan kapasitas/volumenya minimal 10 m3 karena bak dengan volume yang lebih kecil stabilitas suhunya kurang terjamin. Tinggi bak antara 1,2 - 1,5 m, bak yang terlalu tinggi akan meyulitkan dalam pengelolaan sehari-hari.
Bentuk bak bisa bulat atau segi empat. Tergantung besarnya dana dan selera. Yang harus diperhatikan dalam hal bentuk dan ukuran bak adalah tidak menyulitkan dalam pengelolaan sehari-hari juga memudahkan sirkulasi air. Bak dengan bentuk bulat, saluran pembuangannya terletak di tengah dengan dasar miring (kemiringan 5%) ke tengah (ke saluran pembuangan). Pada saluran pembuangan dapat dipasang pipa tegak untuk mengatur dan mengontrol ketinggian air.
Bak segi empat sebaiknya berbentuk memanjang untuk memudahkan pergantian air dan pada sudut-sudutnya tidak boleh mempunyai sudut mati (sudut yang tajam). Sudut yang tajam akan meyebabkan sirkulasi air tidak sempurna sehingga sisa metabolit dan kotoran lain terkumpul pada sudut bak, disamping itu sudut yang tajam juga akan menyulitkan dalam pembersihan bak. Pada bak dalam bentuk segi empat saluran pemasukan dan pembuangan air diletakkan pada sisi yang berlawanan, pada saluran pembuangan dapat dipasang pipa tegak (pipa goyang) untuk mengatur dan mengontrol ketinggian air. Dasar bak dibuat miring dengan kemiringan 5% agar memudahkan dalam pembersihan bak. Selain itu dinding dan dasar bak harus halus agar tidak mudah ditempeli kotoran, jamur dan parasit serta tidak menyulitkan dalam pembersihan bak.
Untuk keperluan pemanenan benih, baik pada bak bentuk bulat maupun bentuk segi empat pada ujung saluran pembuangannya dilengkapi dengan bak berukuran kecil untuk menempung benih yang akan dipanen. Bak pemeliharaan larva memerlukan penutup di atasnya untuk mencegah masuknya kotoran dan benda asing yang tidak dikehendaki serta melindungi bak pemeliharaan dari air hujan. Tutup bak dapat terbuat dari plastik dan sebaiknya berwarna gelap untuk melindungi air/media pemeliharaan larva dari penyinaran matahari yang berlebihan, sehingga mencegah terjadinya blooming plankton pada medium air pemeliharaan larva. Selain itu penutup bak juga dapat mencegah terjadinya fluktuasi suhu yang terlalu tinggi serta dapat menaikkan suhu pada bak pemeliharaan larva.
d.   Bak Kultur Plankton
Plankton (fito dan zooplankton) mutlak diperlukan sebagai pakan bagi pemeliharaan larva kakap putih yaitu saat larva mulai mengambil/membutuhkan makanan dari lingkungannya karena cadangan makanannya yang berupa kuning telur sudah habis. Selain sebagai pakan alami, fitoplankton juga berfungsi sebagai pengendali kualitas air dan pakan bagi kultur zooplankton/rotifer. Bak untuk kultur plankton dapat dibuat dengan konstruksi kayu yang dilapisi plastik, karena volume yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Ukuran bak cukup 2 x 2 x 0,6 meter masing-masing 4 buah untuk kultur fitoplankton dan 4 buah lagi untuk kultur zooplankton (masing-masing bak kultur plankton termasuk bak cadangan). Jumlah dan ukuran bak kultur plankton sebesar itu cukup untuk menyediakan pakan alami satu sikles pemeliharaan (3 bak pemeliharaan larva dengan kapasitas 10 m3).
e.    Bak Penetasan Artemia
Makanan alami lain yang dibutuhkan bagi kehidupan larva adalah Artemia salina. Artemia yang beredar di pasaran umum adalah berupa cyste atau telur, sehinga untuk memperoleh naupli artemia yang siap diberikan pada larva sebagai makanan harus ditetaskan terlebih dahulu. Untuk memperoleh naupli, cyste dapat langsung ditetaskan atau didekapsulasi dahulu sebelum ditetaskan.
Bak penetasan artemia dapat terbuat dari fiber glass atau plastic berbentuk kerucut yang pada bagian ujung kerucutnya dilengkapi stop kran untuk pemanenan naupli artemia. Bentuk kerucut merupakan alternatif terbaik karena hanya dengan satu batu aerasi di dasar kerucut dapat mengaduk seluruh air di dalam bak penetasan secara merata, sehinga cyste dapat menetas dengan baik karena tidak ada yang mengendap atau melekat di dasar bak. Volume bak penetasan sebaiknya minimal 25 - 30 liter untuk menetaskan cyste artemia sebanyak 150 – 200 gram.
f.       Aerator
Larva memerlukan oksigen terlarut dalam air untuk proses metabolism dalam tubuhnya, selain itu gelembung udara yan dihasilkan oleh aerator dapat mempercepat proses penguapan berbagai gas beracun dari medium air pemeliharaan larva. Selain pertimbangan harga, aerator sebaiknya bentuk dan ukurannya kecil, kekuatan tekanannya cukup besar (sampai kedalaman 1 - 1,2 m) serta kebutuhan listriknya kecil. Perlengkapan lain dari aerator adalah batu aerasi, slang aerasi dan penatur aerasi untuk mengatur tekanan udara.
2.     Peralatan Lapangan
Untuk menunjang pengelolaan pembenihan sehari-hari diperlukan beberapa ember plastik, antara lain untuk menampung makanan sebelum diberikan ke larva, ember panen untuk menampung dan menghitung benih serta ember untuk menyaring air saat disiphon. Peralatan lain adalah gayung untuk menebarkan pakan, blender untuk mengaduk dan menghaluskan pakan buatan bila diperlukan, saringan pakan (plankton net) berbagai ukuran sesuai dengan lebar bukaan mulut larva serta slang air dari berbagai ukuran sesuai kebutuhan.
C.       TEKNIK PEMELIHARAAN
1.     Pemeliharaan Induk
-          Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan induk, berupa bak beton berbentuk bulat berdiameter 10 m dan kedalaman 3 m, kapasitas dari bak induk 230 m3.
-          Jenis pakan yang diberikan berupa ikan rucah segar, diberikan setiap hari dengan jumlah 3 — 5% berat total tubuh ikan.
-          Penggantian air dilakukan setiap hari dengan menggunakan system sirkulasi 200 — 300 % dengan debit air di saluran inlet sekitar 5 liter/detik.
2.     Sampling Kematangan Gonad
-          Induk betina sudah mencapai lebih dari 3 kg, sedangkan untuk induk jantan berumur lebih dari 2 tahun dengan bobot lebih dari 2 kg.
-          Induk kakap betina yang matang gonad ditandai dengan perut membesar bila diraba akan terasa lembek, warna tubuhnya kehitaman/kelabu, lubang genitalnya terlihat agak membuka dan memerah serta bila distriping keluar cairan kekuning-kuningan.
-          Sedangkan ciri induk jantan yang matang gonad warna tubuhnya semakin cerah dan mengkilap dan bila distriping keluar cairan putih susu (sperma).
3.     Pemijahan
-          Pemijahannya dengan system alami melalui rangsangan manipulasi lingkungan pada bak pemeliharaan yang merangkap bak pemijahan. 
-          Induk akan memijah sore sampai malam hari sekitar pukul 18.00 —22.00 WIB.
-          Pemijahan ditandai terjadinya kejar-kejaran induk jantan dan betina
-          Induk betina terlebih dahulu mengeluarkan telur disusul dengan induk jantan mengeluarkan sperma dan pembuahan terjadi diluar tubuh ikan.
-          Telur hasil pemijahan dengan sendirinya akan keluar terbawa air melalui saluran outlet dan tertampung di egg collector bermata jaring 200 — 500 mikro.
4.     Pemanenan Telur
-          Ukuran egg collector 125 x 50 x 75 cm dengan mata jarring 200 — 500 mikro.
-          Kerangka dibuat dan pipa berdiameter 1 inci berbentuk persegi panjang.
-          Pemanenan dilakukan pada pagi hari dengan mengalirkan air laut secara terus menerus
-          Jika telur ada, telur dipanen menggunakan seser (scope net) dengan ukuran lubang 200 mikro dan ditampung di dalam 5 liter sudah berisi air laut.
5.     Inkubasi Telur
-          Inkubasi telur dilakukan setelah pemanenan telur yaitu antara pukul 06.30—07.00 WIB.
-          Wadah yang digunakan berupa akuarium berkapasitas 100 liter.
-          Telur yang sudah dipanen dimasukkan ke dalam akuarium yang sudah diisi air dengan volume 80 — 90 liter dan diberi aerasi yang cukup agar telur yang akan dihitung menyebar rata.
6.     Pemeliharaan Larva
Sebelum larva dipindahkan (kira-kira 1 - 2 hari sebelumnya), bak pemeliharaan larva harus dicuci dengan air tawar dan disikat lalu dikeringkan selama 1 - 2 hari. Membersihkan bak dapat juga dilakukan dengan cara membilaskan larutan sodium hypokhlorine 150 ppm pada dinding bak, selanjutnya dikeringkan selama 2 - 3 jam untuk menghilangkan chlorine yang bersifat racun.

Air media pemeliharaan larva yang bebas dari pencemaran dengan suhu 26 - 280C dan salinitas 29 - 32 ppt diisikan ke dalam bak dengan cara disaring dengan penyaring pasir atau kain penyaring untuk menghindari kotoran yang terbawa air laut. Untuk mensuplai oksigen bak dilengkapi sistim aerasi dan batu aerasi yang diletakkan secara terpencar agar merata keseluruhan air di dalam bak. Larva yang baru menetas mempunyai panjang total 1,21 - 1,65 mm, melayang dipermukaan air dan berkelompok dekat aerasi.
Umur 30 hari larva ditempatkan di dalam bak yang terlindung dari pengaruh langsung sinar matahari (semi out door tanks). Padat penebaran awal dalam bak pemeliharaan adalah 70 - 80 larva/liter volume air. Pada hari 8 - 15 tingkat kepadatan dikurangi menjadi 30 – 40 larva/liter, setelah hari ke 16 kepadatan larva diturunkan menjadi 20 – 30 larva/liter, karena pada umur ini larva sudah menunjukan perbedaan ukuran dan sifat kanibalisme.
Tabel 1. Padat Penebaran Larva Kakap yang Dipelihara Sampai Umur 30Hari.

Umur larva (hari)
Jumlah larva/liter
1 - 7
8 -15
16 - 23
30 - 40
70 - 80
20 - 30

7.     Pemberian Pakan Alami
Sejak pertama larva sudah harus diberi Chlorella dan Tetraselmis, selain sebagai pakan larva, berfungsi pula sebagai pengendali kualitas air dan pakan Rotifer. Padat penebaran untuk Tetraselmis adalah 8 - 10 x 1000 sel/ml sedangkan untuk Chlorella adalah 3 - 4 x 10.000 sel/ml. Umur 2 hari, larva sudah mulai membuka mulut, pada saat ini hingga hari ke 7 ke dalam bak ditambahkan Rotifera (Brachionus plicatilis) dengan padat penebaran 5-7 individu/ml. Pada hari ke 8 sampai hari ke 14 pemberian Rotifera ditingkatkan jumlahnya menjadi 8 - 15 individu/ml. Pada umur 15 hari larva mulai diberi pakan Artemia dengan kepadatan 11 – 2 individu/ml. Setelah berumur 30 hari, dengan panjang badan 12 - 15 mm larva sudah dapat memakan cacahan daging segar.

Adapun jenis dan jumlah pakan yang diberikan pada larva kakap putih dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Jenis dan jumlah pakan yang diberikan pada larva kakap
Jenis
Pakan
Jumlah
Pakan
Umur
(hari)
Frekuensi
(kali/hari)
Alga bersel satu :
- Tetraselmis sp
- Chlorella sp

8 - 10 - 1000 sel/ml
3 - 4 x 10.000 sel/ml

1 - 14
1 - 14

1
1
Rotefera :
Bractionus sp
Nauplii Artemia

5 - 7 individu/ml
8 - 15 individu/ml
2 - 3 individu/ml

3 - 7
8 - 14
15 - 20

4
4
2 - 3
Cacahan daging ikan sesuai kebutuhan 20 >

8.     Pengelolaan Air
Pengelolaan air yang baik dapat memberikan pertumbuhan larva yang cepat dengan tingkat keluluran hidup (survival rate) lebih tinggi. Dalam hal ini yang terpenting adalah agar selalu mempertahankan lingkungan yang optimal untuk pertumbuhan dan kehidupan larva. Disamping itu perubahan yang bersifat mendadak atau lingkungan yang tidak mendukung akan mengakibatkan kematian larva, untuk menekan tingkat kematian disamping perlu diperhatikan masalah sanitasi dan pengaturan pakan yang seksama perlu diperhatikan pengelolaan air yang baik.  Pada pemeliharaan larva kakap putih penggantian air dilakukan mulai pada hari ke 13 sebanyak 10 - 20% hari sampai hari ke 14. Pada hari ke 15 sampai hari ke 25 penggantian air sebanyak 30 - 40%, dilakukan secara penyiponan.
9.     Penggolongan Ukuran (Grading)
Pemeliharaan larva kakap dalam lingkungan terbatas dengan persaingan pakan dan ruangan akan mengakibatkan pertumbuhan yang tidak merata. Penggolongan ukuran (grading) dimaksudkan untuk mencegah saling memakan sesama larva (kanibalisme), oleh karena ikan kakap mempunyai sifat karnifor (ikan pemangsa). Sifat kanibal pada larva kakap akan semakin kelihatan saat mulai makan artemia (± 10 hari). Wadah yang digunakan untuk penggolongan ukuran terbuat dari plastik yang dilubangi dinding-dindingnya dengan ukuran tertentu pula, ukuran lubang bervareasi antara 2,5 - 10 mm.
Penggolongan ukuran dilakukan dengan cara memasukkan baskom plastik ke dalam bak pemeliharaan di atas aerasi, agar ikan yang ukuran lebih kecil dari  lubang dapat lolos dan larva yang lebih besar tidak dapat lolos, selanjutnya larva yang ukurannya lebih besar dipisahkan dan dilakukan lagi pengolongan ukuran dengan menggunakan baskom yang mempunyai lubang ukuran lebih besar. Cara ini akan memisahkan ikan ke dalam beberapa ukuran tertentu dan mempermudah pengelolaannya. Penggolongan ukuran dilakukan dua kali yaitu penggolongan pertama pada hari ke 10-14 dan penggolongan kedua pada hari ke 20 - 25. Ukuran lubang bervareasi antara 2,5 - 10 mm.
10.   Panen
Cara panen tergantung dari bentuk dan kapasitas pemeliharaan untuk bak yang memiliki saluran keluar akan lebih mudah dilakukan dengan menempatkan arus air keluar. Sedangkan yang tanpa saluran keluar, panen dilakukan dengan cara mengurangi air pada bak pemeliharaan sampai kedalaman tinggal 10 – 20 cm, kemudian benih ditangkap dengan scopnet. Agar larva kakap tidak mengalami stress pada saat panen, dilakukan secara hati-hati dan pada penampungan sementara diberi aerasi secukupnya.


BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa:
1.      Keberhasilan dalam operasional pembenihan kakap putih sangat tergantung pada lokasi yang tepat
2.      Fasilitas yang diperlukan dalam unit pembenihan kakap skala kecil cukup sederhana yaitu pompa, bak penampungan air tawar dan air laut, bak pakan alami, bak pemeliharaan larva dan bak penetasan artemia, aerator/blower dan perlengkapannya serta peralatan lapangan sebagai penunjangnya.
3.      Larva yang baru menetas mempunyai panjang total 1,21 - 1,65 mm, melayang dipermukaan air dan berkelompok dekat aerasi.
4.      Sejak pertama larva sudah harus diberi Chlorella dan Tetraselmis, selain sebagai pakan larva, berfungsi pula sebagai pengendali kualitas air dan pakan Rotifer.
5.      Pengelolaan air yang baik dapat memberikan pertumbuhan larva yang cepat dengan tingkat keluluran hidup (survival rate) lebih tinggi
6.      Penggolongan ukuran (grading) dimaksudkan untuk mencegah saling memakan sesama larva (kanibalisme)
7.      Cara panen tergantung dari bentuk dan kapasitas pemeliharaan untuk bak yang memiliki saluran keluar akan lebih mudah dilakukan dengan menempatkan arus air keluar. Sedangkan yang tanpa saluran keluar, panen dilakukan dengan cara mengurangi air pada bak pemeliharaan sampai kedalaman tinggal 10 – 20 cm, kemudian benih ditangkap dengan scopnet
B.      SARAN
1.      Lokasi pembenihan harus terletak pada daerah bebas banjir, ombak dan pasang laut
2.      Sumber air laut yang dipergunakan untuk pembenihan harus bersih dan jernih sepanjang tahun, dengan perubahan salinitas relatif kecil
3.      Untuk keperluan pemanenan benih, baik pada bak bentuk bulat maupun bentuk segi empat maka, pada ujung saluran pembuangannya dilengkapi dengan bak berukuran kecil untuk menempung benih yang akan dipanen
4.      Agar larva kakap tidak mengalami stress pada saat panen, dilakukan secara hati-hati dan pada penampungan sementara diberi aerasi secukupnya.
 
DAFTAR PUSTAKA



1 komentar:

  1. mas brooo ada data tentang pakan ikan rucah untuk udang windu dan ikan... klw ada tolong kirim ke email (riantoliz@yahoo.com)

    atas bantuan mas brooo sy sangat ber terimah makasih

    BalasHapus